Sering Salah, Ini Perbedaan Corona dan Flu yang Wajib Kamu Ketahui

Jujur saja, melihat seseorang bersin saat ini terasa lebih mengerikan dibanding beberapa  bulan yang lalu. Kamu akan merasa takut dan pasti ingin menghindar jauh ketika berdekatan dengan orang yang sedang bersin. Tidak hanya kamu, tapi sebagian besar penduduk dunia juga mengalami ketakutan yang sama. Pasalnya, infeksi saluran pernapasan ini memiliki gejala yang sekilas mirip dengan flu biasa. Padahal kita tahu bahwa dibanding flu biasa, corona jauh lebih berbahaya. Lantas, apa perbedaan corona dan flu biasa? Apakah penanganannya harus berbeda?

Flu dan corona berasal dari virus yang berbeda

Flu dan corona adalah penyakit yang muncul akibat terjadinya infeksi di saluran pernapasan akibat virus. Rhinovirus bertanggung jawab atas flu biasa, sedangkan coronavirus adalah virus yang menyebabkan COVID-19. Berbeda dengan rhinovirus yang memiliki capsid yang terdiri dari empat jenis protein, sedangkan dinding sel coronavirus terbentuk dari lapisan lipid. Dari segi ukuran, coronavirus umumnya sedikit lebih besar dari pada rhinovirus.

Meski mirip, gejala flu biasa dan corona itu berbeda

Karena sama-sama menginfeksi sistem pernapasan, flu biasa dan corona cenderung memiliki gejala yang sama. Terlebih di awal-awal masa infeksi virus. Ketika seseorang pertama kali terpapar rhinovirus, dibutuhkan wakti 1-3 hari untuk merasakan gejala awal flu. Sedangkan pada kasus corona, pasien menunjukkan waktu inkubasi yang beragam. Mulai dari 2 hingga 14 hari. Hal ini yang menyebabkan deteksi dini corona sangat sulit dilakukan.

Untuk pasien yang menderita flu, biasanya akan menunjukkan gejala-gejala berupa:

  • Hidung tersumbat dan berair
  • Sakit tenggorokan ringan
  • Batuk kering atau berdahak
  • Sakit kepala ringan
  • Merasa lemas
  • Demam ringan

Sedangkan untuk seseorang yang terinfeksi coronavirus, mereka menunjukkan gejala yang lebih beragam. Simak laporan yang dirangkum oleh tim WHO berikut berkaitan dengan gejala yang dirasakan pasien positif corona:

  • 80% orang mengalami demam tinggi
  • 70% orang mengalami batuk kering
  • 40% orang merasa badan letih
  • 35% orang merasa ada sedikit atau banyak timbunan dahak di tenggorokan
  • 20% orang mengalami sesak napas atau napas menjadi pendek
  • 15% orang mengalami nyeri sendi
  • 14% orang mengalami sakit tenggorokan yang sangat mengganggu
  • 14% orang mengalami sakit kepala
  • 11% orang mengalami kedinginan hingga menggigil
  • 5% orang mengalami mual, muntah, dan hidung tersumbat
  • 4% orang mengalami diare
  • 1% orang mengalami batuk darah
  • 1% orang mengalami sakit mata
Baca Juga :  5 Harga Pemutih Gigi Terbaru 2019 yang Direkomendasikan untuk Anda

Selain itu, tingkat keparahan seseorang terhadap corona juga sangat beragam. Bagi seseorang yang biasa menjalani hidup sehat, corona bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 5-7 hari. Namun pada kasus yang menimpa golongan lanjut usia dan orang dengan penyakit akut seperti diabetes, jantung, bronchitis, astma, atau asam lambung tinggi dapat berakibat fatal akibat komplikasi.

Saat flu biasa menyerang sistem pernapasan bagian atas, corona dengan kasus parah menyerang saluran bagian bawah. Dalam kasus kematian tertinggi, corona bertanggung jawab dalam timbulnya infeksi pada jaringan paru-paru, yang mengakibatkan pasien terserang pneumonia juga sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

Penanganan yang berbeda antara flu biasa dan corona

Ketika seseorang terkena flu biasa, gejalanya dapat menghilang sendiri tanpa pengobatan. Umumnya dibutuhkan waktu 3-7 hari, bergantung pada kondisi imun seseorang sampai infeksi benar-benar berhenti dan flu sembuh secara total.

Makan makanan penuh nutrisi, perbanyak minum air putih, serta menambah waktu istirahat adalah cara sederhana yang dapat mempercepat tubuh pulih dari flu. Obat Pereda nyeri seperti paracetamol dan ibuprofen juga aman digunakan untuk membantu meringankan gejala flu. Pada beberapa kasus, dokter juga biasa memberi resep suplemen yang dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Sedangkan pada kasus corona, penanganannya sedikit berbeda bergantung pada tingkat keparahan pasien. Namun pertama-tama, perlu dicatat baik-baik bahwa kamu tidak boleh meberikan ibuprofen pada pasien positif corona karena zat ini justru akan memperparah infeksi!

Ketika seseorang yang positif corona dilarikan ke rumah sakit, tenaga medis akan memberikan tindakan yang bertujuan untuk menjaga kondisi tubuh pasien agar tetap stabil. Sebisa mungkin kondisi kekebalan tubuh pasien harus tetap di atas. Jika sistem imun runtuh, sangat besar peluang pasien terjangkit pneumonia akibat bakteri, atau terjadi gagal organ yang dapat mengakibatkan kematian.

Baca Juga :  7 Jamu Tradisional Penuh Khasiat Favorit Masyarakat Indonesia

Karena corona adalah wabah baru, belum ada obat dan vaksin yang dapat mengobati dan mencegahnya. Namun, dengan pola hidup sehat dan mengikuti anjuran para ahli, kamu dan orang lain bisa selamat dari wabah ini. Jadi, jangan malas membaca dan terus belajar ya!

Coba simak artikel ini untuk wawasan yang lain di tengah wabah corona: https://review.bukalapak.com/others/perbedaan-corona-covid19-flu-alergi-111348

Health